| Sudahkah Kita Syukur Nikmat...??? |
“Ketika
Tuhanmu mengumumkan: “Jika kamu bersyukur atas karuniaku, pasti Aku
tambah untukmu. Jika kamu berlaku ingkar, sesungguhnya azab-Ku sangat
pedih.”
(Q.S: Ibrahiim: 7)
Berfikir Sejenak Seputar Nikmat
Suatu ketika seseorang yang hidup dengan kenikmatan
materi yang cukup melimpah dengan rumah mewah dan mobil yang wah pula,
sedang diberikan ujian sakit. Dengan segala daya upaya dia berkeinginan
untuk bisa segera pulih dan disembuhkan dari sakitnya.Walaupun harus
kehilangan sebagian besar hartanya, orang tersebut tetap bersikeras
untuk bisa mendapatkan kembali kesehatan yang dia dapatkan secara gratis
dari Allah SWT. Akhirnya sadarlah orang tersebut akan mahalnya nikmat
kesehatan yang Allah SWT anugerahkan sebagai wujud Maha Pengasihnya.
Dua
cerita di atas hanyalah sekelumit kisah dari sekian milyar manusia yang
Allah ciptakan di muka bumi ini. Dari sekian manusia yang Allah SWT
ciptakan, masih banyak yang kufur bahkan ingkar dari nikmat-nikmat
mereka terima. Akan tetapi, Allah SWT tetap memiliki sifat Maha Pemurah
yang diberikan kepada setiap makhluk-Nya. Allah SWT tidak akan
mengurangi maha kasih-Nya kepada setiap manusia walaupun mereka kufur
terhadap nikmat-Nya. Bahkan Allah akan menambahkan kenikmatannya jika
hamba-Nya selalu mensyukuri nikmat-Nya.
Dengan Apa Kita Syukur Nikmat?
Allah
SWT menganugerahkan berbagai macam nikmat, diantaranya nikmat materi
berupa harta yang melimpah, rumah yang megah, kendaraan pribadi yang
mewah, hasil bumi yang gemah ripah dan sebagainya. Begitu juga nikmat
ilmu yang bermanfaat atau kemampuan yang lebih dibandingkan orang lain
dan nikmat kesempatan seperti jabatan dan pangkat serta tahta yang
manusia sering perebutkan hanya untuk kepuasan urusan dunia pada
umumnya.
Cara mensyukuri nikmat pun bermacam-macam, mulai dari menyisihkan sebagian harta untuk zakat kepada mustahiq
atau orang-orang yang berhak menerima zakat, bersedekah agar supaya
harta yang kita miliki tumbuh berkembang dan berbarokah. Adapun nikmat
ilmu dan kecerdasan dapat kita wujudkan rasa syukurnya dengan selalu
giat menuntut ilmu dan meraih cita-cita serta mengajarkan ilmu kepada
anak cucu kita ataupun orang-orang disekitar kita tanpa harus memiliki
status sebagai seorang guru. Sabda Nabi Muhammad SAW : “tiga hal
yang tidak akan terputus amalnya yaitu: sodaqoh jariyah, ilmu yang
bermanfaat (yang di ajarkan , serta anak saleh yang selalu mendoakan
bapak-ibunya (walaupun keduanya sudah tiada).
Sedangkan
nikmat kesempatan berupa jabatan, pangkat, maupun tahta adalah nikmat
duniawi yang sering melupakan manusia dari beribadah, maka cara
mensyukuri nikmat kesempatan adalah selalu mengingat Allah SWT dan
menghindari hal-hal yang menjerumuskan kepada kezhaliman seperti
melakukan tindakan korupsi, menipu rakyat, dan memakan harta anak yatim
serta harta-harta yang bukan menjadi haknya. Seorang Khalifah berkata: “Amal
sholehnya orang yang diberikan harta banyak adalah sodaqohnya, dan amal
sholeh orang berilmu adalah dengan mengajarkannya”. Demikianlah refleksi dari nikmat dan bagaimana mensyukuri nikmat Allah berikan.
Intisari Syukur Nikmat
Bersyukur
artinya merefleksikan diri dengan memberikan timbal balik atas suatu
nikmat yang Allah SWT anugerahkan kepada kita. Bersyukur mrnjadikan kita
selalu ingat bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah milik-Nya dan
kita wajib memberikan apresiasi sebagai wujud rasa syukur kita.
Bersyukur juga membuat manusia selalu menyadari bahwa segala sesuatu
yang manusia upayakan hanya akan terjadi jikalau Allah SWT menghendaki.
Oleh karena itu menusia akan selalu bertaqarrub atau mendekatkan diri dan bertawakal atau berserah diri kepada-Nya.
Bersyukur
menjadikan pribadi manusia tahan terhadap musibah, karena segala macam
musibah baik itu di bumi maupun dalam diri manusia semuanya tercatat
dalam dalam lauh al-mahfudz, jauh sebelum manusia diciptakan. ”Segala
musibah yang terjadi di bumi atau yang menimpa dirimu, semuanya
tercatat dalam kitab (pengetahuan Allah) sebelum Kami menciptakannya.
Yang demikian itu bagi Allah sangat mudah.”Demikian firman Allah dalam surat al-Hadid ayat 23.
Bersyukur juga membuat manusia selalu dapat menimbang segala perbuatan yang akan dilakukannya dengan balance
atau seimbang agar supaya tidak berputus asa terhadap apa yang lepas
dari manusia, dan tidak bersuka ria secara berlebihan atas anugerah yang
diberikan Allah SWT, Dalam surat yang sama ayat 24, Allah berfirman: ”Agar
kamu jangan berputus asa atas apa yang lepas darimu, dan jangan bersuka
ria atas anugerah yang diberikan kepadamu. Allah tidak senang
orang-orang yang menepuk dada.”
Di
dalam Al-Qur’an terdapat banyak kisah yang menceritakan tentang
hamba-hamba Allah yang bersyukur dan juga berdo’a ketika mensyukuri
nikmat Allah SWT, salah satunya adalah do’a Nabi Sulaiman ketika beliau
mendengar rombongan semut yang menghindar dari jalan yang akan dilewati
Nabi Sulaiman dan para pasukannya dari golongan manusia, jin, dan para
binatang. Nabi Sulaiman tersenyum seraya berdo’a untuk mensyukuri nikmat
Allah SWT yang tidak di anugerahkan kepada makhluk selain Nabi Sulaiman
sendiri. Nabi Sulaiman adalah seorang Nabi yang dikaruniai mu’jizat
dapat berbicara dengan bahasa binatang dan memiliki istana yang sangat
megah dengan pasukan dari golongan manusia, jin, dan binatang. Atas
nikmat tersebut, Nabi Sulaiman tidak meneepuk dada dan tetap terus
berdoa memohon bimbingan Allah:
”Wahai Tuhanku, bimbinglah aku untuk selalu bersyukur atas
kenikmatan yang Engkau berikan kepadaku ,juga kepada kedua orang tuaku
dan agar aku melakukan amal yang Engkau ridloi, dan masukkanlah aku
dengan rahmat-Mu bersama hamba-hamba-Mu yang saleh.”
Wujud
syukur memang beragam. Namun semuanya tetap kembali pada satu pemahaman
dan keyakinan dasar bahwa “apa yang ada dalam diri kita adalah milik
Allah dan semuanya akan kembali kepada-Nya serta kelak akan kita
pertanggung jawabkan di hadapan-Nya”. Mari Belajarl untuk menjadi orang
yang amanah terhadap semua nikmat-Nya!
Wallahu a’lam bish Shawwab.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar